Home
Share
There are no translations available.

 

Green innovation program merupakan program yang memiliki tujuan untuk belajar bagaimana Indonesia dan Negara-negara lain bisa membangun kapasitas untuk mempercepat inovasi hijau secara menyeluruh. Program ini menjadi pemrakasa suatu pendekatan baru untuk memicu inovasi dalam teknologi energi bersih di Indonesia. Program ini juga merupakan suatu bentuk dasar yang tujuannya adalah untuk belajar bagaimana Indonesia dan negara lain bisa membangun kapasitas untuk mempercepat inovasi hijau yang bersifat menyeluruh.

Salah satu bentuk nyata Green innovation program ini adalah kunjungan lapangan dan konsultasi untuk program "kampung Biogas Indonesia". Kampung biogas merupakan program Bright Idea yang diinisiasi sebagai perusahaan energy berbasis masyarakat.

Kampung biogas menawarkan pelatihan pembangunan biogas dan mampu melaksanakan proyek pembangunan unit biogas di berbagai tempat di Indonesia. Dengan demikian Kampung Biogas merupakan suatu model Engineering Education in Sustainable Development (EESD). Selain itu, Kampung Biogas mampu memperkokoh pondasi perekonomian desa karena mampu menjadi sumber penghasilan baru bagi warga. Selain itu juga menghemat pengeluaran dana untuk pemenuhan kebutuhan energi, terutama energi memasak. Pengembangan selanjutnya biogas juga mampu memenuhi kebutuhan listrik. Pada gambar 9 dipaparkan diagram alir pembangunan Kampung Biogas hingga tahapan keberlanjutannya.

 Untuk lebih jelasnya bisa di klik http://greeninnovation.or.id/

 

 

 

 

Last Updated (Tuesday, 08 May 2012 11:12)

 
Share
There are no translations available.

  • Bright Idea Community atau yang disingkat BIC dirintis sejak tahun 2010 di Kota Pelajar, Yogyakarta
  • Pendirian BIC digagas oleh sekumpulan mahasiswa-mahasiswa UGM lintas fakultas dan angkatan yang telah berpengalaman dalam menjuarai berbagai event kompetisi nasional maupun internasional, student exchange, mahasiswa/mahasisw berprestasi UGM, penerima beasiswa studi ke luar negeri, dosen-dosen muda, dan juga alumni UGM yang berprofesi di bidangnya masing-masing.
  • BIC yang berawal dari komunitas jejaring sosial “Facebook” tumbuh berkembang dalam latar belakang nuansa kesederhanaan Yogyakarta dan sangat dekat dengan pusat intelektual tertua di Indonesia, kampus UGM.
  • Kelahiran BIC sangat kental dengan nuansa keilmuan dan kebangsaan yang diilhami oleh nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian) serta spirit untuk membangun bangsa Indonesia.
  • Spirit kebangsaan dari BIC disinari oleh nilai-nilai luhur yang termaktub dalam Tujuan Bangsa Indonesia: “Melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kepentingan umum,  mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.”Memajukan kepentingan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi spirit pondasi kebangsaan dan dharmabhakti dari BIC kepada Indonesia.
  • Spirit keilmuan dan kebangsaan ini menjadi ruh yang menggerakkan anak-anak muda bangsa untuk BERSINAR (Bergerak, Bersinergi, dan Berkarya) serta BERSEMI (Bersemangat Membangun Indonesia) di BIC
  • Tanggal 22 Januari menjadi pertemuan darat yang penting pertama BIC dengan mengumpulkan belasan mahasiswa maupun fresh graduate dari UGM, UNY, UIN, dan UNS dari berbagai jurusan serta angkatan untuk berdiskusi dengan perwakilan pemerintah di kabupaten Gunungkidul. Tema pembahasannya adalah mengenai mapping potensi wilayah, inventarisasi permasalahan teknologi, formulasi langkah penyelesaian, dan komitmen untuk bergerak bersama.
  • Gedung KPFT UGM menjadi tempat bersejarah bagi BIC karena di tanggal 12 Februari 2011 dilaksanakan pertemuan perdana untuk memulai langkah kepeloporan IPTEK dari BIC.
  • Langkah ini menjadi momentum yang mendasari terjadinya rentetan langkah-langkah berikutnya dalam menyongsong terintisnya BIC yang terus mentradisikan pengembangan IPTEK dan kompetisi ilmiah di kalangan pemuda
  • Pengiriman delegasi BIC pada masa-masa awal perkembangan BIC untuk berlaga di berbagai even ditujukan untuk mendapatkan pendanaan dalam rangka melaksanakan kegiatan-kegiatan pengembangan IPTEK yang dilakukan karena BIC belum mempunyai sumber pendanaan tetap.
  • Pada akhirnya, pendanaan BIC didapatkan dari kemenangan kompetisi di Kementerian Ristek RI, UN-Habitat, dan Pemuda Pelopor DIY.
  •  Fakultas Teknik UGM kembali menjadi tempat bersejarah bagi BIC karena tanggal 25 September 2011 pada akhirnya BIC secara formal mendeklarasikan diri sebagai organisasi profesional yang terus berakselerasi progresif untuk melakukan pengembangan IPTEK berbasis kepeloporan pemuda.

Last Updated (Saturday, 05 May 2012 07:56)

 
Share
There are no translations available.

Pada tanggal 18-19 April 2012, BIC mendapatkan undangan kehormatan untuk mengikuti acara Global Innovation trough Science and Technology (GIST) Startup Boot Camp Indonesia yang dilaksanakan di Gedung BPPT-Thamrin, Jakarta. Acara yang dihelat oleh GIST, CRDF Global, The APEX Consultant Group, Business Innovation Center (BIC), dan Universitas Ciputra Entrepreneurship Center ini menghadirkan pembicara-pembicara atau lebih tepatnya trainer-trainer kaliber internasional. Sebut saja Jim Bagnola, The Leadership Group, International speaker, Executive Coach, and Corporate Educator; Joe Hadzima, MIT Sloan School of Management, Senior Lecturer, MIT Enterprise Forum, Former Global Chairman, dan masih banyak lagi yang ikut mewarnai pelatihan entrepreneurship ini. Tidak kalah juga beberapa mentor dan trainer lokal ikut pula menyemarakkan kegiatan ini.

 

Bright Idea community (BIC) diwakili oleh Mohammad D. Aziz, selaku CEO Bright Idea Community (BIC), dan Fitria Nuraini Sekarsih, selaku Direktur Bright Idea Corporation (BICorp) mengangkat Program LELAKI dan WANITA (Lele Lahan Kering Sistem Terpal dan Wahana Nila Lahan Tandus) dan KAMPUNG BIOGAS INDONESIA untuk kemudian dipresentasikan dihadapan para trainer tersebut setelah sebelumnya diberi banyak wawasan dan mentoring oleh para mentor.

Acara yang sangat luar biasa ini ditutup dengan cukup meriah dan hangat, meskipun hingga malam hari baru selesai. Dari sini, BIC untuk kesekian kalinya mendapatkan peluang kerja sama, pelatihan, serta jaringan yang cukup potensial untuk dijajaki lebih lanjut. Semoga ke depan BIC bisa semakin bersinar dan bermanfaat demi kemajuan bangsa. Amiin (mda)

Last Updated (Saturday, 05 May 2012 06:59)

 
Share
There are no translations available.

RUMAH PINTAR “OMAH PASINAON”

TEMPAT BELAJAR SAMBIL BERMAIN BERBASIS BUDAYA LOKAL

Pada dasarnya Pendidikan adalah tanggung jawab setiap warga masyarakat sebagainama telah diamanahkan dalam undang undang Negara kita, dan omah pasinaon merupakan usaha nyata sebagai bentuk tanggung jawab untuk ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

 

Omah pasinaon merupakan sebuah istilah bahasa jawa yang mengandung arti “Omah” rumah dan “pasinaon” belajar, jadi omah pasinaon berarti rumah belajar. Konsep pembelajaran yang ditawarkan adalah belajar sambil bermain berbasis budaya lokal dan hal ini yang membedakan dengan sekolah pada umumnya. Dimana dengan wadah ini setiap peserta didik dapat mengembangkan semua potensi dan kreatifitas yang dimilikinya.

Proses pembelajaran dibagi menjadi beberapa sentra yaitu:

Read more...

 
Share
There are no translations available.

Gunungkidul- (31/1) Sentra kerajinan perak di Desa Blekonang, Kecamatan Tepus Kabupaten Gunungkidul yang letaknya kurang lebih sekitar 26 Km dari kota Wonosari merupakan desa yang jauh dari perkotaan, dengan letak geografis di wilayah pegunungan dan perbukitan dengan medan yang sangat menantang. Hal itulah yang menyebabkan Tim Bright Idea Community bersama Dekranasda Kabupaten Gunungkidul tertarik dan berkunjung ke sentra perak Surya Silver.

Surya Silver merupakan kelompok pengrajin perak, tembaga dan kuningan, dengan ketua kelompok bernama Bapak Supriyadi. Disela- sela mengawasi pekerjaan anggota kelompok, Pak Supriyadi menceritakan awal mula membentuk usaha kerajinan tersebut. Pada tahun 1986 beliau merantau ke Sentra Perak Kota Gedhe untuk bekerja, tetapi pada tahun 1991 memutuskan untuk balik desa membangun desa karena peduli pada banyaknya pengangguran di Desa Blekonang.

 

Berbekal ilmu yang didapat dari Kota Gedhe, keyakinan, tekad yang kuat dan rasa peduli akhirnya pada tahun 1991 Pak Supriyadi membentuk kelompok kecil dirumah dan mulai berkembang. Saat ini Surya Silver memiliki 60 – 110 pekerja dan memakai sistem borongan. Uniknya, pekerja Surya Silver 25 % berjenis kelamin perempuan.

Read more...

 
Profil Pemuda Berprestasi
Kalender
BuaXua Calendar
Video


Get the Flash Player to see this player.

time2online Joomla Extensions: Simple Video Flash Player Module
Contact YM

Total Kunjungan
mod_vvisit_counterHari Ini70
mod_vvisit_counterMinggu Ini686
mod_vvisit_counterBulan Ini1760
mod_vvisit_counterTotal4400
Banner
Banner
Banner